Tiap pagi saya selalu ‘diperdengarkan’ suara Mamah Dedeh. Karena saya sebenernya nggak mau denger, tapi abah dan mamah saya sengaja menyetel TV keras-keras.
Alasannya, pertama, mereka udah sepuh, jadi pendengaran agak berkurang; kedua, mereka ingin anak-anaknya juga ikut mendengar tayangan ‘positif’ itu; dan ketiga, mereka ingin membangunkan saya dari tidur dengan halus (atau kejam).
Jadi mau tak mau saya mendengarkan Mamah Dedeh.
Saya memang suka ketegasannya, dan tak basa-basinya itu. Dia jelas-jelas tidak berusaha menyenangkan orang yang curhat. Yang paling sering dihujatnya dengan tegas adalah para pezina.
Jadi sering ada perempuan yang curhat dengan sedih bahwa dia menyesal sudah berzina (berkali-kali pula) dan bertanya bagaimana caranya tobat. Untuk dia, Mamah Dedeh hampir tidak memberikan solusi sama sekali. Dia akan bilang bahwa dosa macam itu hanya akan diampuni kalau perempuan ini dikubur di tanah dengan hanya kepala di permukaan, dan orang melemparnya dengan batu kerikil sampai mati.
Lalu Mamah Dedeh akan bilang begini, “Makanya jadi perempuan jangan murahan!”
Untuk kasus ini, saya memuji Mamah Dedeh. Ketegasannya adalah ketegasan kitab suci. Sayangnya, di jaman sekarang ini, orang memang hampir mustahil buat menjalankan kitab suci. Tak banyak support systemnya. Akhirnya kelugasan Mamah Dedeh tampak out of date.
Tapi ada juga yang tidak saya puji dari Mamah Dedeh. Yaitu kalau beliau sudah sekeras batu mengatakan bahwa Islam adalah agama paling benar di dunia. Beliau tampaknya tidak menyadari (atau peduli) efeknya di negeri Indonesia yang plural ini. Terutama di pulau-pulau yang agama Islam adalah minoritas, seperti di pulau saya. Dominasi para selebriti ustadz di TV saja sudah membuat kami malu.
Untuk kasus ini, saya adalah pengikut sejati Pidi Baiq. Seorang pemimpin serikat The Panas Dalam yang menyatakan diri sebagai front pembela agama Islam, Hindu, Kristen, Budha, dan Kong Hu Cu.
Tapi sekarang saya harus mendengarkan Mamah Dedeh. Karena tak banyak orang yang mau curhat ke Pidi Baiq.